pendidikan

blog tugas-tugas kuliah

CONTOH PROPOSAL PTK Desember 22, 2009

Filed under: Uncategorized — winda016 @ 11:59 pm

MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA KELAS I SD NEGERI WUNUT I DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA PADA POKOK BAHASAN PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BILANGAN CACAH MELALUI PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Disusun Oleh :
Winda Parasti
071644016

OLEH :
WINDA PARASTI
071644016

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2009
A. JUDUL PENELITIAN
MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA KELAS I SD NEGERI WUNUT I DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA PADA POKOK BAHASAN PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BILANGAN CACAH MELALUI PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK
B. BIDANG KAJIAN
Desain dan Strategi Pembelajaran di Kelas
C. PENDAHULUAN
Peningkatan penguasaan, pemanfaatan, dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu tujuan yang sangat diinginkan oleh bangsa Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah dan masyarakat pendidikan telah melakukan berbagai upaya pada berbagai jenjang persekolahan sesuai dengan kurikulum yang diberlakukan secara nasional yang memuat berbagai mata pelajaran termasuk matematika.
Tidak sedikit sumbangan matematika untuk mengembangkan kemampuan manusia dalam memanfaatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kesadaran terhadap hal ini telah mendorong berbagai kalangan pendidikan untuk melakukan berbagai upaya, baik peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, perubahan kurikulum, pelatihan guru-guru dan tenaga dosen LPTK, peningkatan kualitas guru, dan pelaksanaan perlombaan seperti Olimpiade Sains Nasional untuk menyeleksi putra-putri terbaik bangsa dalam ajang menyeleksi bidang sains dan matematika pada skala nasional dan internasional. Semua upaya tersebut merupakan bukti nyata kesungguhan berbagai kalangan untuk mengangkat derajat bangsa melalui pendidikan. Walau demikian, harus disadari bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar sehingga tantangan dan hambatan yang dihadapi untuk mewujudkan cita-cita tersebut juga tidak sedikit. Hal ini dirasakan oleh keseluruhan komponen pendidikan khususnya guru matematika yang menjadi tulang punggung pelaksana pendidikan matematika di sekolah-sekolah.

SD Negeri Wunut I yang berlokasi di Desa Wunut, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto merupakan salah satu SD yang guru-gurunya juga mengalami hal yang sama sebagimana diuraikan di atas. Namun setelah dilakukan berbagai upaya perbaikan demi meningkatkan hasil belajar matematika siswa khususnya minat dan motivasi belajar telah nampak berbagai perubahan secara klasikal baik hasil belajar maupun minat dan motivasi belajar siswa.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan di SD Negeri Wunut I, terlihat bahwa minat, motivasi, dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika sudah cukup baik. Hal ini terbukti dari banyaknya siswa yang memperoleh nilai di atas 6,5 lebih dari 80%. Namun demikian, dari hasil diskusi dengan guru kelas tersebut diperoleh kenyataan bahwa jika dilihat dari komposisi soal yang diteskan, secara umum siswa belum mampu menyelesaikan soal cerita. Para siswa masih mengalami kesulitan untuk menyelesaikan soal-soal matematika bentuk cerita. Dari hasil pengamatan terhadap lembar jawaban siswa terlihat bahwa ada beberapa penyebab hal ini bisa memungkinkan terjadi, yaitu: kemampuan siswa dalam memaknai bahasa soal masih kurang, siswa belum dapat menentukan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan, serta kemampuan siswa dalam menentukan model matematika yang digunakan dalam penyelesaian soal.
Berdasarkan alasan di atas, maka perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk lebih meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika khususnya soal berbentuk cerita. Hal ini dapat diwujudkan karena guru telah dapat melaksanakan pembelajaran matematika dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik. Artinya, guru dan siswa telah memiliki pengalaman dan kemampuan untuk melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ini dalam pembelajaran matematika. Pendekatan Matematika Realistik digunakan karena pendekatan ini adalah suatu pendekatan pembelajaran yang mengarahkan siswa pada pembelajaran secara bermakna, sesuai dengan kemampuan berpikir siswa serta berkaitan dengan kehidupan siswa sehari-hari. Keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari ini akan mengarahkan siswa pada pengertian bahwa matematika bukan hanya ilmu simbolik belaka tetapi dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu dan mempermudah pekerjaan manusia dalam menyelesaikan permasalahan hidupnya. Pemberian pembelajaran matematika yang bermakna kepada siswa dan tidak memisahkan belajar matematika dengan pengalaman siswa sehari-hari, siswa akan dapat mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari dan tidak cepat lupa.
Berdasarkan alasan-alasan di atas, maka perlu dilaksanakannya penelitian ini yang berjudul: “Meningkatkan Kemampuan Siswa Kelas I SD Negeri Wunut I dalam Menyelesaikan Soal Matematika Berbentuk Cerita pada Pokok Bahasan Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Cacah Melalui Pendekatan Matematika Realistik”.

D. PERUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH
1. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
“Apakah kemampuan siswa kelas I SD Negeri Wunut I dalam menyelesaikan soal matematika berbentuk cerita pada pokok bahasan faktor dan kelipatan bilangan dapat ditingkatkan melalui pendekatan matematika realistik?”
2. Pemecahan Masalah
Pemecahan masalah yang akan digunakan dalam PTK ini yaitu pendekatan Matematika Realistik Indonesia. Dengan strategi ini, diharapkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal matematika berbentuk cerita pada pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah dapat meningkat.

E. TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas I SD Negeri Wunut I dalam menyelesaikan soal matematika berbentuk cerita pada pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah melalui pendekatan matematika realistik.

F. MANFAAT HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti sebagai berikut:
1. Bagi guru :
• Guru dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendekatan pembelajaran di kelas, shingga konsep-konsep matematika yang diajarkan guru dapat dikuasai siswa.
• Guru akan terbiasa untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan merancang pendekatan-pendekatan pembelajaran yang baru guna meningkatkan prestasi belajar siswanya.
2. Bagi siswa :
Hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi untuk meningkatkan minat, motivasi, dan kemampuannya dalam memahami konsep-konsep matematika sehingga prestasi belajarnya dapat meningkat.
3. Bagi sekolah :
Hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi positif pada sekolah dalam rangka perbaikan kualitas proses dan hasil pembelajaran.

G. KAJIAN PUSTAKA
1. Proses Belajar Mengajar
Proses belajar mengajar merupakan sebuah proses interaksi yang menghimpun sejumlah nilai (norma) yang merupakan substansi, sebagai medium antara guru dan siswa dalam rangka mencapai tujuan.
Dalam proses belajar mengajar terdapat dua kegiatan yakni kegiatan guru dan kegiatan siswa. Guru mengajar dengan gayanya sendiri dan siswa juga belajar dengan gayanya sendiri. Sebagai guru, tugasnya tidak hanya mengajar tetapi juga belajar memahami suasana psikologis siswanya dan kondisi kelas. Dalam mengajar, guru harus memahami gaya-gaya belajar siswanya sehingga kerelavansian antara gaya-gaya mengajar guru dan siswa akan memudahkan guru menciptakan interaksi edukatif dan kondusif. Hal ini sejalan dengan pendapat Ametembun (1985) bahwa suatu interaksi yang harmonis terjadi bila dalam prosesnya tercipta keselarasan, keseimbangan, keserasian antara kedua komponen yaitu guru dan siswa.
Dalam proses edukatif guru harus berusaha agar siswanya aktif dan kreatif secara optimal. Guru tidak harus terlena dengan menerapkan gaya konvensional. Karena gaya mengajar seperti ini tidak sesuai dengan konsepsi pendidikan modern. Pendidikan modern menghendaki siswa lebih aktif dalam kegiatan interaktif edukatif. Guru bertindak sebagai fasilitator dan pembimbing sedangkan siswa aktif dalam belajar.
Banyak kegiatan yang harus dilakukan gurudalam proses belajar mengajar seperti memahami prinsip-prinsip proses belajar mengajar, menyiapkan bahan dan sumber belajar, memilih metode yang tepat, menyiapkan alat bantu pengajaran, memilih pendekatan, dan mengadakan evaluasi. Semua kegiatan yang dilakukan guru harus didekati dengan pendekatan sistem, sebab pengajaran adalah suatu sistem yang melibatkan sejumlah kompenen pengajaaran dan semua komponen tersebut saling berkaitan dan saling menunjang dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran.
2. Soal Cerita Matematika dan Langkah-langkah Menyelesaikannya
Permasalahan matematika yang berkaitan dengan kehidupan nyata biasanya dituangkan melalui soal-soal berbentuk cerita (verbal). Menurut Abidia 1989:10), soal cerita adalah soal yang disajian dalam bentuk cerita pendek. Cerita yang diungkapkan dapat merupakan masalah kehidupan sehari-hari atau masalah lainnya. Boot masalah yang diungkapkan akan mempengaruhi panjang pendeknya cerita tersebut. Makin besar bibot masalah yang diungkapkan, memungkinkan semakin panjang cerita yang disajikan. Sementara itu, menurut Haji (1994:13), soal yang dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam bidang matematika dapat berbentuk cerita dan soal bukan cerita/soal hitungan. Dilanjutkannya, soal cerita merupakan modifikasi dari soal-soal hitungan yang berkaitan dengan kenyataan yang ada di lingkungan siswa.
Untuk dapat menyelesaikan soal cerita, siswa harus menguasai hal-hal yang dipelajari sebelumnya, misalnya pemahaman tentang sartuan ukuran luas, satuan ukuran panjang dan lebar, satuan berat, satuan isi, nilai tukar mata uang, satuan waktu, dan sebagainya. Di samping itu, siswa juga harus menguasai materi prasyarat, seperti rumus, teorema, dan aturan/ hukum yang berlaku dalam matematika. Pemahaman terhadap hal-hal tersebut akan membantu siswa memahami maksud yang terkandung dalam soal-soal cerita tersebut.
Di samping hal-hal di atas, seorang siswa yang diperhadapkan dengan soal cerita harus memahami langkah-langkah sistematik untuk menyelesaikan suatu masalah atau soal cerita matematika. Haji (1994:12) mengungkapkan bahwa untuk menyelesaikan soal cerita dengan benar diperlukan kemamuan awal, yaitu kemamuan untuk: (1) menentukan hal yang diketahui dalam soal; (2) menentukan hal yang ditanyakan; (3) membuat model matematika; (4) melakukan perhitungan; dan (5) menginterpretasikan jawaban model ke permasalahan semua. Hal ini sejalan dengan langkah-langkah penyelesaian soal cerita sebagaimana dituangkan dalam Pedoman Umum Matematika Sekolah Dasar (1983), yaitu: (1) membaca soal dan memikirkan hubungan antara bilangan-bilangan yang ada dalam soal; (2) menuliskan kalimat matematika; (3) menyelesaikan kalimat matematika; dan (4) menggunakanan penyelesaian untuk menjawab pertanyan.
Mencermati beberapa pendapat di atas, maka langkah-langkah (strategi) yang diperlukan untuk menyelesaikan soal bentuk cerita yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
• Menentukan hal yang diketahui dalam soal
• Menentukan hal yang ditanyakan dalam soal
• Membuat model / kalimat matematika
• Melakukan perhitungan (menyelesaikan kalimat matematika)
• Menuliskan jawaban akhir sesuai dengan permintaa soal.
3. Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI)
Istilah matematika realistik semula muncul dalam pembelajaran matematika di negeri Belanda yang dikenal dengan nama Realistic Mathematics Education (RME). Pendekatan pembelajaran ini merupakan reaksi terhadap pembelajaran matematika modern (new math) di Amerika dan pembelajaran matematika di Belanda sebelumnya yang dipandang sebagai “mechanistic mathematics education”.
PMRI pada dasarnya merupakan pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami siswa untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga dapat mencapai pendidikan matematika secara lebih baik dari pada masa yang lalu. Seperti halnya pandangan baru tentang proses belajar mengajar, dalam PMRI juga diperlukan upaya mengaktifkan siswa. Upaya tersebut dapat diwujudkan dengan cara (1) mengoptimalkan keikutsertaan unsur-unsur proses belajar mengajar dan (2) mengoptimalkan keikutsertaan seluruh sense peserta didik. Salah satu kemungkinannya adalah dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk dapat menemukan atau mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang akan dikuasainya.
Dalam pandangan PMRI, pembelajaran matematika lebih memusatkan kegiatan belajar pada siswa dan lingkungan serta bahan ajar yang disusun sedemikian rupa sehingga siswa lebih aktif mengkonstruksi pengetahuan untuk dirinya sendiri. Peran guru lebih banyak sebagai motivator terjadinya proses pembelajaran, bukan sebagai pengajar atau penyampai ilmu. Ini berarti materi matematika yang disajikan kepada siswa harus berupa suatu “proses” bukan sebagai barang “jadi”.
Marpaung dalam Hartadji dan Ma’nar (2001) menyatakan bahwa RME atau PMRI bertolak dari masalah-masalah yang kontekstual, siswa aktif, guru berperan sebagai fasilitator, anak bebas mengeluarkan idenya, siswa berbagi ide-idenya, artinya mereka bebas mengkomunikasikan ide-idenya satu sama lain. Guru membantu mereka membandingkan ide-ide itu dan membimbing mereka untuk mengambil keputusan tentang ide mana yang lebih baik buat mereka.
PMRI memberikan kemudahan bagi guru matematika dalam pengembangan konsep-konsep dan gagasan-gagasan matematika bermula dari dunia nyata. Dunia nyata tidak berarti konkrit secara fisik dan kasat mata, namun juga termasuk yang dapat dibayangkan oleh pikiran anak. Jadi dengan demikian PMRI menggunakan situasi dunia nyata atau suatu konteks nyata sebagai titik tolak belajar matematika.
Ciri-ciri PMRI :
• Menggunakan konteks yang nyata sebagai titik awal belajar
• Menggunakan model sebagai jembatan antara real dan abstrak
• Belajar dalam suasana demokratis dan interaktif
• Menghargai jawaban informal siswa sebelum mereka mencapai bentuk formal matematika.
Prinsip utama PMRI :
• Penggunaan konteks, sebagai sumber belajar dalam menemukan kembali ide matematika dan secara bersamaan menerapkan ide tersebut
• Menggunakan model produksi dan konstruksi siswa
• Menolak proses yang mekanistik, saling terlepas dan tak bermakna, prosedur rutin, dan sering bekerja individual
• Siswa bukan penerima informasi, tetapi subyek aktif dalam menemukan kembali
• Menggunakan berbagai teori belajar yang relevan dan saling terkait.
Kelebihan dalam PMRI :
• Melalui penyajian yang kontekstual, pemahaman konsep siswa meningkat dan bermakna, mendorong siswa melek matematika, dan memahami keterkaitan matematika dengan dunia sekitarnya
• Siswa terlibat langsung dalam proses doing math sehingga mereka tidak takut belajar matematika
• Siswa dapat memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari dan mempelajari bidang studi lainnya
• Memberi peluang pengembangan potensi dan kemampuan berfikir alternatif
• Kesempatan cara penyelesaian yang berbeda
• Melalui belajar kelompok berlangsung pertukaran pendapat dan interaksi antar guru dengan siswa dan antar siswa, saling menghormati pendapat yang berbeda, dan menumbuhkan konsep diri siswa
• Melalui matematisasi vertikal, siswa dapat mengikuti perkembangan matematika sebagai suatu disiplin.
Sintaks Implementasi Matematia Realistik (PMRI)
Aktivitas Guru Aktivitas Siswa
Guru memberikan siswa masalah kontekstual Siswa secara sendiri atau kelompok kecil mengerjakan masalah dengan strategi-strategi informal.
Guru merespon secara positif jawaban siswa. Siswa diberikan kesempatan untuk memikirkan strategi siswa yang paling efektif.
Guru mengarahkan siswa pada beberapa masalah kontekstual dan selanjutnya meminta siswa mengerjakan masalah dengan menggunakan pengalaman mereka Siswa secara sendiri-sendiri atau berkelompok menyelesaikan masalah tersebut.
Guru mengelilingi siswa sambil memberikan bantuan seperlunya. Beberapa siswa mengerjakan di papan tulis. Melalui diskusi kelas, jawaban siswa dikonfrontasikan.
Guru mengenalkan istilah konsep Siswa merumuskan bentuk matematika formal.
Guru memberikan tugas di rumah, yaitu mengerjakan soal atau membuat masalah cerita beserta jawabanya yang sesuai dengan matematika formal. Siswa mengerjakan tugas rumah dan menyerahkannya kepada guru

H. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN
a. Rencana Penelitian
1. Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas I SDN Wunut I Kecamatan Mojoanyar Kabupaten Mojokerto, dengan jumlah siswa sebanyak 25 orang. Pertimbangan peneliti mengambil subyek tersebut dimana kelas I telah mampu melakukan operasi hitung sederhana.
2. Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti mengambil lokasi di SDN Wunut I, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Alasan pemilihan sekolah ini karena sekolah ini memerlukan inovasi pembelajaran, khususnya dalam keterampilan menyelesaikan soal cerita
3. Waktu Penelitian
Dengan beberapa pertimbangan dan alasan penulis menentukan menggunakan waktu penelitian selama 3 bulan, mulai dari bulan September s.d November
4. Lama Tindakan
Waktu untuk melaksanakan tindakan pada bulan September , mulai dari siklus I, siklus II, siklus III.

b. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian yang diterapkan dalam penelitian antara lain :
1. Perencanaan (Planning)
1. Mengadakan penelitian awal untuk mengidentifikasi permasalahan yang perlu diatasi. Dalam tahap ini peneliti melakukan observasi pada proses pembelajaran dan melakukan wawancara terhadap siswa kelas I dan guru kelas I.
2. Membuat lembar observasi bagi guru dan siswa. Lembar observasi tentang kinerja guru dan aktifitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
3. Membuat sialbus dan RPP dengan Pendekatan Matematika Realistik sebagai panduan dalam proses belajar mengajar.
4. Membuat alat bantu mengajar yang diperlukan dalam rangka membantu siswa memahami konsep-konsep matematika dengan baik (media).
5. Mendesain alat evaluasi untuk melihat apakah materi matematika telah dikuasai oleh siswa.
2. Pelaksanaan tindakan (Acting)
a) Siklus I, meliputi :
• Tahap Persiapan :
 Membuat RPP
 Menyiapkan meteri
 Menyiapkan sumber belajar
 Menyipakan media pembelajaran
 Menyiapkan alat pengumpul data
• Kegiatan Awal
 Guru melakukan apersepsi dengan mengajak siswa menyanyikan lagu ”Satu Ditambah Satu”
 Guru menyampikan tujuan pembelajaran

• Kegiatan Inti
 Guru membentuk kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa
 Guru membagikan puzzle segitiga yang berisi soal-soal latihan yang berbentuk soal cerita
 Setiap berkelompok mengerjakan dan menyusun puzzle segitiga tersebut
 Dengan bimbingan guru siswa menuliskan jawaban di papan tulis
• Kegiatan Akhir
 Guru memberi penguatan terhadap hasil pekerjaan siswa
 Guru memberikan pekerjaan rumah (PR)

b) Siklus II
• Tahap Persiapan :
 Membuat RPP
 Menyiapkan meteri
 Menyiapkan sumber belajar
 Menyipakan media pembelajaran
 Menyiapkan alat pengumpul data
• Kegiatan Awal
 Apersepsi : Guru melakukan tanya jawab tentang materi sebelumnya.
 Menjelaskan tujuan pembelajarn
• Kegiatan Inti
 Guru memberikan contoh soal cerita penjumlahan dan pengurangan
 Guru memberikan soal secara lisan (mencongak) kepada siswa soal cerita tentang penjumlahan dan pengurangan dalam kehidupan sehari-hari.
 Guru beserta siswa membahas jawaban soal mencongak
• Kegiatan Akhir
 Guru bersama siswa menyimpulkan materi
 Guru memberikan tugas rumah kepada siswa

c) Siklus III
• Tahap Persiapan :
 Membuat RPP
 Menyiapkan meteri
 Menyiapkan sumber belajar
 Menyipakan media pembelajaran
 Menyiapkan alat pengumpul data
• Kegiatan Awal
 Apersepsi : Guru melakukan tanya jawab tentang materi sebelumnya.
 Menjelaskan tujuan pembelajarn
• Kegiatan Inti
 Guru memberikan contoh soal cerita penjumlahan dan pengurangan
 Guru memberikan soal secara lisan (mencongak) kepada siswa soal cerita tentang penjumlahan dan pengurangan dalam kehidupan sehari-hari.
 Guru beserta siswa membahas jawaban soal mencongak
• Kegiatan Akhir
 Guru bersama siswa menyimpulkan materi
 Guru memberikan tugas rumah kepada siswa

3. Observasi (Observation)
Observasi dilakukan bersama dengan dilaksanakannya tindakan. Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data yaitu kegiatan guru dan aktifitas siswa selama proses pemeblajaran berlangsung.

4. Refleksi (Reflection)
Peneliti menganalisis semua informasi yang terekam dalam proses pembelajaran melalui format observasi dan hasil evaluasi yang telah dilakukan. Kemudian memperbaiki proses pembelajaran yang telah dilakukan pada siklus I untuk menyusun tindakan yang akan dilakukan pada siklus II dan siklus III.
Dalam penelitian ini pada awalnya siswa tidak dapat membuat model / kalimat matematika pada pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah. Tetapi setelah diterapkannya pendekatan Matematika Realistik kemampuan siswa membuat model / kalimat matematika dapat meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Pranowo, fx. Natalina dan Djoko. Metodologi Penelitian. ppt.
Purnomosidi. 2003. Pendekatan Matematika Realistik Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara.
Saptowira, Hadi. 2004. Matematika Itu Menyenangkan. Jakarta : Arkola

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/proposal_ptk/

Menurut Abidia 1989:10), soal cerita adalah …
Menurut Haji (1994:13), soal yang dapat digunakan untuk …

About these ads
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.